Ruang Tengah

Blog, Antara Keinginan dan Kebutuhan

Sore ini saya masih duduk di depan layar laptop milik Dik Mei yang berwarna putih. Saya masih memandang layar kaca seperti hari-hari kemarin. Hari-hari yang penuh nyantai (Tsaaahh, nyantai. Hahahaa). Saya mencoba mencari kegiatan di tengah-tengah libur akhir pekan.

Ketika saya berselancar di dunia maya, berkunjung ke beberapa blog teman-teman saya. Dari situ timbullah rasa keinginan untuk mempunyai tampilan blog yang lebih bagus dari apa yang saya punya saat ini.

Melihat itu semua, kok ya, tampilannya itu ciamik banget. Dengan seketika hati saya tambah terdorong untuk mengubah tampilan atau tema blog ini. Saya mulai mencari tema yang saya minati. Tema-tema gratis yang disediakan oleh wordpress dot com saya coba satu per satu. Namun, hasilnya nihil.

Setelah hampir 4 jam duduk di depan laptop, segelas kopi pun tandas. Di saat itulah saya baru sadar kenapa saya tidak menemukan tema yang menurut saya ciamik itu. Karena teman-teman saya pakai tema premium.

Terkadang saya berpikir untuk menaikan level blog saya. Dengan menjadikannya domain dot com, menggunakan tema premium. Tentu saja itu semua akan mengeluarkan pundi-pundi rupiah saya. Setelah segelas kopi itu tandas, saya kembali lagi berpikir “untuk apa?”

Sisi lain batin saya menjawab, “Biar lebih keren”. Sisi sebelah batin saya tertawa terbahak-bahak mendengar alasan itu. “Biar lebih keren” alasannya nggak penting banget. Akhirnya saya tersadar, kalau ini hanyalah sekedar keinginan dan bukanlah sebuah kebutuhan.

Seorang teman, pernah menyarankan untuk mengganti doamin dot com agar blog lebih terlihat profesional dan selain itu juga agar blog bisa dimonetisasi dengan menggunakan adsens. Tujuannya, minimal kita bisa mendapatkan rupiah untuk biaya domain, hosting, server, dan yang lainnya.

Sejujurnya, saya masih belum begitu memahami seluk-beluk tentang blog. Saya tidak paham tentang domain, hosting, server, terlebih lagi adsens. Oke sampai di sini, hal ini akan menjadi proses pembelajaran bagi saya pribadi.

Setelah saya pikir-pikir. Nampaknya saya masih belum terlalu membutuhkan domain dot com. Ya… Masih belum butuh aja. Sesekali ingin rasanya memiliki dot com. Tapi ya itu, balik lagi ke kebutuhan dan agaknya saya masih belum bisa memberi makan si blog. Hahahaa

Masih seperti kemarin, saya mencoba mengisi blog pribadi miliki kita (Iya, Kita. Aku dan kamu, Dik~)

Kemudian untuk melepas hasrat mengganti tampilan atau tema, saya coba menggambarkan desainnya pada selembar kertas. Lalu kertas itu saya simpan sebagai pengingat disuatu hari nanti. Suatu hari gambaran ini akan saya gunakan kembali.

Saya kembali fokus untuk mengisi blog. Ketika mengunjungi blog beberapa teman yang lebih dulu membuat blog daripada saya, saya sadar bahwa membuat blog lebih mudah daripada mengisinya. Dari blog milik teman-teman saya itu, saya melihat blog yang tidak ada pembaharuan. Bahkan, ada juga yang sudah mati.

Sudah setahun blog ini ada. Sudah setahun juga blog ini menjadi tempat penyimpanan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di media online. Kira-kira satu minggu yang lalu, saya baru merasakan manfaat memiliki blog ini. Karena blog ini telah menyelamatkan satu, dua, tiga, sampai empat cerpen saya karena media sebelumnya yang memuat cerpen saya, rubriknya sudah kukut. Saya jadi teringat setahun yang lalu tentang blog ini.

ss blok am
(Tangkapan layar: blokam.wordpress.com)

Blog ini hadir dengan alasan yang tidak penting tapi juga penting. Pertama, ada beberapa teman bertanya, “Kak Allan, Teh Meita. Kalau mau baca tulisan kalian di mana sih?” Maka, Blok AM inilah jawaban dari pertanyaan tersebut. Blog dengan konsep Rumah Allan dan Meita, tempat membagikan hal-hal yang menjadi obrolan hangat untuk tea time.

Kedua, saya sedikit suka membaca dan sedikit juga suka menulis. Kadang saya membaca buku kumpulan cerpen, personal literatur, dan kadang juga saya membaca buku kumpulan esai. Ketika sudah selesai membaca, saya coba menceritakannya kembali, dan blog inilah menjadi medianya.

Ketiga, saya sadar bahwa diri ini hanyalah remah-remah peradaban. Meskipun demikian, saya masih punya daya pikir yang ingin saya utarakan. Saya mempunyai hati dan perasaan yang ingin saya curahkan. Ketika media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram tidak bisa menjadi tempat untuk berekpresi, maka blog inilah menjadi tempat yang tepat.

Sampai di sini, saya bertekad akan terus mengisi blog ini dengan cara menulis, menulis, dan menulis. Sebab menulis itu ibarat memberi kabar. Seperti yang Cak Rusdi Mathari katakan, kurang lebih seperti ini, Menulis itu seperti silaturahmi. Dari tulisan yang tersiar darimu. Kawan-kawanmu, sahabatmu, akan tahu bahwa kamu sedang sehat, masih terbakar api semangat“.

Tabik.


Pertama kali dipublikasikan di kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s