Ruang Tamu

Masak Ikut-Nggak Ikut Tetap Bayar?

Tetangga-tetanggaku yang punya anak SD, kali ini mereka lagi sibuk membahas piknik di sekolah anaknya. Yang menjadi keributan adalah desas-desus kalau mau ikut piknik atau tidak, mereka harus membayar iuran piknik.

“Yang bener, aja. Masak nggak ikut piknik tetep harus bayar 200 ribu? Nggak kira-kira sekolahannya,” kata tetangga sebelahku. Seorang ibu dua anak. Anak yang pertama kelas 1 SD dan anak keduanya masih berusia 2 tahun.

“Saya nggak tahu kalau di sekolah anak Teteh,” kata tetangga seberang rumahku. “Tapi anak saya kemarin nggak ikut piknik tetap harus bayar 200 ribu.”

Tetangga seberang rumahku ini adalah seorang ibu dengan 2 anak. Anak pertamanya kelas 1 SD dan anak keduanya berusia 4 tahun.

“Terus, anak Mbak nggak ikut?” tanya tetangga sebelah rumahku.

“Enggak,” jawab tetangga seberang rumahku. “Kalau ikut, bayarnya 250 ribu. Itu anaknya saja. Kalau pakai pendamping, tambah bayar 250 ribu lagi. Kalau saya ikut, adiknya juga pasti ikut. Tambah 250 ribu lagi. Total yang saya bayar 750 ribu. Belum kalau jajan di sana. Tahu sendiri kan kalau di tempat wisata gitu jajanan nggak murah?”

Kami yang ada di situ menganggukkan kepala.

“Katanya sih, di tempat anak saya juga yang nggak ikut piknik tetap bayar. Tapi ini jadi lucu,” kata tetangga sebelah rumahku. “Orang nggak ikut piknik kan karena nggak punya uang. Ya intinya ada beban keuangan dalam keluarga itu. Masak tetap harus membayar juga?”

Buat aku pribadi, ini yang menguatkanku untuk tidak akan menyekolahkan anakku nanti. Nilai apa yang diajarkan oleh sekolahnya dengan bersikap seperti itu? Masak ikut piknik atau tidak ikut piknik tetap dikenakan biaya? Aku rasanya mengerti, sih. Kalau tidak ada kewajiban untuk membayar, mungkin tidak banyak siswa yang akan ikut piknik. Tapi, sekolahan mau tahu nggak sih, apa yang menyebabkan orangtua berat untuk melepas anaknya pergi piknik?

Beberapa minggu lalu, aku membaca sebuah status Facebook milik seseorang yang anaknya bersekolah di SMP negeri. Dia menulis akan memperkarakan kepala sekolah anaknya karena mewajibkan pembayaran piknik padahal anaknya tidak ikut piknik. Aku tidak suka orang ini menulis status ancaman di media sosial, sebetulnya. Namun tampaknya ancaman itu berhasil karena status tersebut kemudian tidak ada lagi di profil yang bersangkutan.

Hal ini seharusnya menjadi koreksi bersama sekolah bersama dinas pendidikan daerah setempat. Kalau sudah ada orang yang berkoar-koar di internet tentang betapa menyebalkannya membayar iuran piknik padahal anaknya tidak ikut piknik, seharusnya sekolahan lain juga bersikap lebih hati-hati. Dinas pendidikan setempat harus mengingatkan lagi sekolah-sekolah untuk tidak melakukan pungutan biaya piknik bagi yang tidak ikut piknik.

Di forum youthproactive.com, disebutkan bahwa biaya studytour atau piknik sekolah termasuk pungutan liar jika memang tidak ada transparansi dan akuntabilitas anggaran yang dibebankan kepada siswa. Nah, kalau yang tidak ikut tetap dikenakan beban biaya juga, tentu ini tidak menjadi baik, kan?


Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s