Ruang Tengah

Sistem Zonasi Sekolah Memengaruhi Harga Kontrakan

Beberapa hari yang lalu, ibu dari murid lesku mengutarakan ingin pindah kontrakan. Kemudian, saat aku sedang mengantarkan paket ke jasa kurir, aku melihat sebuah rumah yang dikontrakan di dekat sekolah murid les tadi. Aku segera menghubungi ibu murid lesku.

Besoknya, ketika dia mengantarkan anaknya les di rumahku, aku menanyakan apakah dia jadi pindah atau tidak.

“Nggak jadi, Mbak,” kata ibu itu. “Mahal. Padahal rumahnya rumah tua. Langit-langitnya pun rendah. Kayaknya sumpek. Saya kemarin sempet keliling-keliling juga, sih Mbak. Dan pasarannya emang segitu, ternyata. Kalau mau yang lebih bagus ya lebih mahal lagi. Nanti saya mau cari-cari yang di dekat-dekat sini lagi saja.”

“Wah, mahal, ya Bu?” komentarku. “Padahal kan di sana jauh dari mana-mana, lho. Ya nggak jauh banget, sih. Tapi dibanding di sini, lebih enak di sini. Deket rumah sakit sama kantor kecamatan. Mau ke stasiun jalan kaki pun sampai.”

“Ih, Mbak, sana kan deket SMA itu,” potong ibu itu.

“Emang kenapa kalau dekat SMA itu?” tanyaku.

“Itukan sekolah favorit, Mbak,” jawab ibu itu lagi. “Semua orang pingin sekolah di sana. Sekarang kan sistemnya zonasi gitu. Jadi yang diterima sekolah ya yang tinggal paling deket dari sekolahan.”

Aku menganggukkan kepala. Namun sebenarnya, aku masih punya tanya:
Jadi sekarang, sistem zonasi juga berpengaruh sama harga kontrakan? Menarik, ya…

***

Di sebuah artikel yang dirilis oleh tirto.id yang berjudul ‘Sistem Zonasi Sekolah: Berpengaruhkah Terhadap Harga Rumah?’, dikatakan bahwa jarak dengan fasilitas pendidikan bukan merupakan faktor utama dalam membeli rumah, setidaknya hingga tahun 2019 ini. Orang-orang lebih mempertimbangkan jarak dengan fasilitas transportasi umum saat mencari rumah. Sehingga, sistem zonasi sekolah tidak mempengaruhi harga rumah.

Emang iya, sih. Maksudku, kalau dekat dengan fasilitas transportasi, mau ke mana saja juga gampang. Nggak keterima di sekolah negeri favorit ya bisa saja ke sekolah swasta yang agak bagusan. Ya nggak?

Beda cerita kalau fasilitas pendidikan itu adalah universitas. Masih menurut artikel yang sama, harga rumah cenderung mengalami kenaikan jika jaraknya dekat dengan universitas. Ini karena efek domino bisnis. Apa potensi pendapatan berulang dari kepemilikan properti dekat universitas. Misalnya buka rumah makan, rental komputer, atau rumahnya dibikin kos-kosan.

Itu kalau ceritanya ‘rumah’. Aku rasa orang emang enggak akan segegabah itu membeli rumah dekat dengan sekolah hanya karena sistem zonasi sekolah, sebuah kebijakan yang bisa berubah sewaktu-waktu. Kan kita nggak tahu bagaimana kebijakan pemerintah ke depan.

Sistem zonasi sekolah akan diberlakukan seterusnya atau bakal ganti lagi. Pembelian rumah itu, apalagi kalau kredit, jangka panjang dan mengikat. Pasti banyak pertimbangannya.

Namun bagaimana kalau kontrakan, yang merupakan hunian sementara?

Buatku pribadi, aku mencari kontrakan dengan pertimbangan harga, lingkungan, dan aksesabilitasnya. Suamiku kerja di komplek Mangga Dua, Jakarta. Namun kalau harus mencari kontrakan di sekitar sana sepertinya akan mahal. Jadi, kami mengontrak di Bekasi yang lebih terjangkau. Lalu, kami mencari kontrakan yang dekat dengan stasiun KRL, lingkungannya bersih, dan kalau mau jajan tidak perlu pergi jauh-jauh.

Percuma kan kalau sudah mengontrak masih harus berat di ongkos?

Itu tadi adalah pertimbangan pribadiku yang belum punya anak. Kalau aku sudah punya anak yang bersekolah, mungkin aku akan mempertimbangkan juga sekolah di sekitar tempat tinggalku. Aku tidak berani naik motor jauh-jauh di belantara Bekasi ini. Ongkos transportasi juga harus dihitung secara saksama. Jadi, jarak tinggal dengan sekolah tempat anak menempuh pendidikan jelas menjadi bahan pertimbangan.

Seorang tetangga yang mempunyai anak kelas 2 SD, ingin pindah ke rumah kontrakan yang lebih besar karena sekarang dia memiliki bayi kecil. Jarak ke sekolah anaknya menjadi pertimbangan utamanya dalam memilih kontrakan.

“Ya saya nggak bisa naik motor. Bapaknya kalau berangkat subuh-subuh. Kalau pindah jauh-jauh dari sekolahan ya atulah…” kata tetangga saya itu.

Mencari kontrakan jelas lebih fleksibel. Tiga tahun tinggal di sini dan tiga tahun tinggal di sana sih, tidak jadi masalah. Berbeda jika kita mencari rumah. Cicilannya saja bisa sampai 20 tahun, agak sulit rasanya pindah sana sini. Apalagi menjual rumah tidak semudah menjual es kelapa.

Ini hanya pandanganku yang tinggal di Kota Bekasi, di tempat yang sebagian besar penduduknya adalah orang-orang rantau. Di tempat yang setiap sudut jalanan dan gang banyak terdapat kontrakan. Baik yang berupa kontrakan petak, berbentuk rusun, atau yang berwujud benar-benar rumah.


Tulisan ini pertama kali dipublikasikam di Kompasiana, 15 Juli 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s