Diary Abang Paket

3 Perkara yang Bikin Saya Kesal Saat Mengantar Paket COD

Sebagai kurir, mengantar paket COD adalah salah satu hal yang nano-nano bagi saya. Banyak hal yang terjadi selama saya mengantar paket tersebut. seringnya ya karena banyak berita tak mengenakkan saat mengantar paket tersebut.

Saat saya sedang bekerja mengantar paket COD, terkadang rekaman video viral seorang ibu yang menggoblok-goblokan seorang kurir dan video viral seorang bapak yang mengeluarkan pedang terlintas dalam pikiran saya. Kedua video itu selalu menjadi bayangan yang menakutkan.

Saya pernah mengalami paket yang sudah diterima, dibayar, dan setelah di-unboxing oleh penerima paket, ternyata isinya nggak sesuai pesanan. Saya sampai dikejar. Cekcok kecil nggak bisa dihindari meskipun sudah memberi pemahaman tentang metode pembayaran COD kepada penerima paket.

Sampai sekarang saya masih menemukan banyak penerima paket yang memiliki pemahaman bahwa paket COD adalah paket yang bisa dibongkar lebih dulu. Kemudian kalau isi paketnya nggak sesuai, kurir lah yang akan menjadi sasaran panah asmara amarah. Nggak nanggung, dalam pengalaman itu, saya sampai dituduh sebagai penipu. Padahal ada lho video edukasi tentang metode tersebut.

Video edukasi Shopee COD

Meskipun pengalaman itu baru sekali—semoga nggak terulang lagi—perasaan kesal masih terasa sampai sekarang jika mengingatnya. Saya bisa menerima hal itu sebagai salah satu risiko pekerjaan. Tapi sialnya, saya sering banget menghadapi tiga perkara menyebalkan ini saat mengantar paket COD.

#1 Alamat sengaja dibuat nggak lengkap

Perkara alamat kurang lengkap sudah menjadi makanan sehari-hari. Misalnya di label cuma tertulis Kp. Rawa Angsa, Rt 1/Rw 3, Bekasi Barat. Setelah saya coba hubungi ternyata masih ada history chat WA sebelumnya bahwa saya pernah konfirmasi alamat ke nomor HP yang sama.

Sebutlah namanya Budi. Di label paket COD alamatnya selalu tertera nama kampung, RT/RW, kecamatan, dan nama kota saja. Tapi, pada saat si Budi ini pesan paket yang non-COD, alamatnya ditulis terang benderang, pakai nomor rumah, dan lengkap dengan patokan/ancer-ancernya. Karena saya sudah hafal jalan menuju rumah Budi, jadi langsung aja meluncur.

Hal itu saya alami nggak cuma satu paket atau dua paket saja, tapi cukup banyak. Sehingga saya menduga bahwa memang ada unsur kesengajaan untuk menyamarkan alamat. Mungkin saja, tujuannya untuk memancing kurir agar konfirmasi terlebih dahulu kalau mau ngirim paket COD. Jadi, biar nggak terkesan kurir datang mendadak, tiba-tiba menyodorkan paket COD, dan minta uang bayaran.

Beberapa kali saya bertemu penerima yang marah-marah kalau tiba-tiba saya datang mengantar paket COD-nya. Saya juga heran, dia yang belanja barangnya, pas mau bayar kayaknya berat banget, gitu. Kalau setiap paket saya harus mengabarkan satu per satu lebih dulu, ya, saya nggak ada waktu untuk itu. Banyak paket-paket yang harus saya selesaikan delivery-nya.

Ya udah, lah ya, pastinya akan selalu ada Budi yang lainnya. Tapi, plisss, nomornya yang penting bisa dihubungi, soalnya akan jadi kunci buat kurir. Kalau alamat udah nggak lengkap terus nomor nggak bisa dihubungi, yaaa, wasallam. Paket otw retur. Bukan otw ke rumah penerima.

#2 Transaksi COD beralih ke transaksi transfer

Setelah berhasil konfirmasi ke alamat yang nggak jelas, tugas saya belum selesai. Masih ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, paket sukses delivery. Kedua, begitu ketemu si penerima paket di rumahnya, doi malah minta pembayaran COD lewat transfer ke rekening pribadi kurir.

Jujur saja, saya selalu merasa keberatan dan sebal dengan hal ini. Lah, kalau kaya gitu, kenapa nggak langsung transfer/bayar ke marketplace aja, ye kan?

Berbagai alasan saya dapatkan. Mulai dari kehabisan uang cash, belum sempat mengambil uang di ATM, sampai nama penerima yang bersangkutan nggak ada di tempat terus rekan/keluarganya mau menerima paket, tapi nggak mau nalangin uang COD-nya.

Yang paling membagongkan lagi, saya pernah mendengar satu alasan pemesan paket nggak mau transfer via marketplace karena pernah pesanan paketnya batal, lalu uangnya masuk ke e-wallet. Jadi, saat paket COD-nya datang, maunya tuh pembayaran lewat transfer. Masalahnya jarang sekali saya menemui yang mau langsung transfer detik itu juga. Alasannya sudah pasti, nggak instal aplikasi M-Banking. Kalau begitu kapan dong ditransfernya?

Jawabannya yang selalu saya dapatkan adalah “nanti”. Nanti siang, nanti sore, nanti malam, dan nanti-nanti lainnya yang saya nggak tau pasti nantinya itu kapan. Padahal saya harus setor uang COD-nya di hari yang sama. Nggak boleh H+1 dari tanggal status paket yang udah selesai delivery. Saya pernah melakukan praktik ini. Cukup sekali saja dan kapok.

Pada saat itu saya bisa percaya karena sudah tahu rumah kontrakannya, paket saya serahkan begitu saja. Saya foto. Status udah selesai delivery otomatis nominal rupiah udah masuk hitungan uang COD yang harus saya setor di hari itu. Nomor rekening saya kirim via WA. Saya dijanjikan jam 17.00 WIB.

Sampai di jam 17.30 WIB saya belum mendapatkan kabar bukti transfer. Saya coba WA lagi. Ternyata ceklis satu. Saya coba telepon nomornya, tapi nggak aktif. Saya coba kembali lagi ke rumahnya, tapi nggak ada orang. Hati saya udah mulai ketar-ketir. Jam 19.30 WIB waktunya saya setoran uang COD.

Dengan berat hati saya mengeluarkan uang pribadi sebagai ganti setor uang paket COD yang tadinya mau ditransfer, tapi nggak kunjung masuk ke rekening saya. Perkara setoran, sih, udah aman, yang penting saya nggak ada masalah dengan perusahaan perihal menunda setoran karena uangnya kurang.

Esok harinya, saya coba tanyain lewat WA, tapi WA saya diblokir. Saya coba telepon, nomornya aktif, tapi nggak pernah diangkat. Sambil delivery saya datang lagi ke kontrakannya. Hasilnya sampai detik ini, saya menulis naskah ini, kontrakan itu masih kosong nggak berpenghuni. Ya, tul! manusia itu kabur membawa paket COD yang semestinya dia bayar.

Sampai di titik ini, saya nggak mau lagi menuruti pembeli yang uang COD-nya minta ditransfer. Kalaupun kondisi memaksa saya untuk memilih opsi yang ngeri-ngeri sedap itu, paketnya nggak akan saya berikan sebelum ada bukti transfer. Kalau transfernya nanti, ya udah paketnya nanti juga. Nggak masalah buat saya, bolak-balik datang lagi ngirim paketnya. Yang penting saya nggak kecolongan untuk kedua kalinya.

#3 Penerima paket merasa nggak memesan paket

Nama penerima yang tertera di label merasa nggak memesan paket sebetulnya juga sering bikin saya kesal. Udah jalan panas-panasan, macet-macetan, sampai masuk dari satu gang sempit ke gang sempit lainnya dengan membawa paket-paket bukanlah hal yang mudah. Eh, begitu sampai di rumah dan bertemu si penerima saya cuma dapat pernyataan “saya nggak pesan paket, Bang!”

Ada dua kemungkinan hal ini bisa terjadi. Pertama, bisa jadi memang order fiktif yang dilakukan oleh seller nakal. Penerima paket benar nggak memesan tapi dikirimi barang COD. Kemudian isinya bisa zonk. Saya nggak akan pernah tahu pasti praktik ini yang sedang berlangsung atau bukan.

Kedua, bisa jadi penerima paket yang nggak mau mempertanggungjawabkan barang pesanannya. Kalau ketemu kasus seperti ini, saya pikir, doi melakukan check out tanpa pikir panjang. Check out aja dulu. Mau barang itu datang atau nggak, mau uang COD-nya siap atau belum, ya, urusan nanti.

Satu hal yang pasti, kalau penerima paket yang tertera di label sudah melayangkan pernyataan tersebut, saya nggak bisa memaksanya untuk membayar. Saya juga nggak akan bisa mengecek history transaksi akun marketplace-nya untuk memastikan dia benar check out atau nggak. Hal itu udah di luar batasan saya sebagai kurir yang tugasnya cuma mengantar paket.

Kebenaran atas dua kemungkinan tersebut cuma pihak seller, buyer, marketplace, dan Tuhan aja yang tahu. Kalaupun mau diadakan penghakiman siapa yang benar dan salah, cuma pihak marketplace-lah yang berhak melakukannya. Bukan kurir ekspedisi. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah membawa paket itu balik, lapor ke PIC sesuai kejadian di lapangan, dan paket akan proses retur.

Misi, pakeeet~

Ada sih satu perkara lagi yang bikin saya suka ngedumel sendiri kalau lagi tugas delivery, yap, nggak ada orang di rumah. Tapi kalau perkara itu, sih, saya udah nggak kaget lagi karena hampir setiap hari menghadapinya. Misalnya kayak gini:

“Misiii… Paket, Mamah Myesha Izdihar Syifanazia~”

Seorang anak kecil keluar dari rumah melihat saya. Lalu dia masuk lagi ke dalam rumah sambil teriak, “Mamah… Ada paket. Ada paket…”

Saya masih menunggu. Nggak lama anak kecil itu keluar lagi terus bilang ke saya, “Om, kata Mamah, Mamah nggak ada di rumah.”

“Oke…”

Sesimple itu itu jawaban saya. Nggak perlu kaget meskipun dongkol. Besoknya sambil lewat, ya, saya tinggal balik lagi aja. Maksimal 3 kali atau 3 hari percobaan delivery.

Meskipun proses retur adalah perjalan terakhir sebuah paket yang ditolak atau gagal delivery dalam metode pembayaran COD ini, bukan berarti itu sebuah hal kewajaran. Tentu saja banyak orang yang akan dirugikan. Mulai dari penjual sampai kurir. Kerugian nggak selalu berupa materi. Waktu dan tenaga pun jadi terbuang tanpa hasil.

Itulah lika-liku yang saya hadapi saat mengantar paket COD. Plis, buat kalian yang suka check-out-dulu-pikir-belakangan, mohon pahami kami, para kurir, yang berjibaku mengantar paket kalian. Masak ya nggak kasian, Bosku.


Tulisan ini pertama kali dimuat di situs Terminal Mojok, 4 Juli 2022.

Diedit oleh: Rizky Prasetya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s